Selamat Datang

Kami berpegang pada prinsip tumbuh pohon; berkembang secara perlahan, tapi pasti.
Bantu kami untuk menjadi penghuni jagad digital

Friday, August 26, 2011

Ramadhan itu Bukan Tuhan!

Oleh:  Azyz Ibrahiem Syah*
 
“Aih...aih...nggak nyangka yah bulan puasa udah mau abis aja...”, ujar salah seorang sahabat dalam sebuah El-Tramco menuju perjalanan pulang dari kawasan Hay El-Asyir. Kata-katanya memang terdengar sangat basi, sekali lagi: sangat basi!. Atau bahasa kasarnya: kalimat paling basi sedunia!. Tapi apa boleh buat, dengan dalih “manusiawi”, kita memang kerap memaklumi diri kita sendiri untuk terjatuh di lubang yang sama. Lucu bukan ?

Ramadhan 1432 H adalah Ramadhan ke-5 di negara Afrika Utara ini bagi penulis sendiri. Itu artinya, secara akumulatif, tidak kurang dari 150 hari penulis telah ikut mencicipi nuansa Ramadhan di Negeri Seribu Menara ini. Fanous-fanous Ramadhan warisan Utaibah bin Malik yang sering kita jumpai bergantungan di pintu-pintu rumah warga Mesir, menjadikan Ramadhan di sini memiliki “hiruk-pikuk” tersendiri. Baik segala hiruk-pikuk yang bersifat spiritual maupun hal-hal yang bernuansa  sosio-kultural. Jujur saja, paragraf pertama di atas sebetulnya bertujuan “menyindir” penulis sendiri. Stagnansi Ramadhan yang dirasakan penulis, semoga tidak dirasakan oleh pembaca sekalian. Semoga saja.
               
Ngomong-ngomong tentang “hiruk-pikuk”, Indonesia tentu rajanya. Di negara kita yang nan jauh di sana, ramadhan bukanlah sekedar bulan penuh hikmah. Ramadhan kini, menjelma menjadi sebuah “produk komersil” paling laris. Maksudnya?

Ya! Nyatanya Ramadhan memang laku di jual dan laris di pasaran. Sebagaimana kita ketahui, saat bulan Ramadhan datang, media-media elektronik seperti televisi yang saat ini jumlahnya mencapai belasan, berubah menjadi “pesantren dadakan”. Da’i-da’i muda bersorban pun serentak nongol jejingkrakan seraya menyuguhkan “hidangan rohani” secara marathon. Apakah fenomena ini salah? Eits, belum tentu donk!

Tak hanya itu, maraknya acara-acara hiburan seperti lawakan dan sinetron-sinetron religius Ramadhan yang muncul gerilya di stasiun-stasiun TV juga terus setia menemani ibadah puasa kaum muslimin di Indonesia. Sehingga, para pemirsa dirasa harus cukup cerdas dalam memilah-milah tontonan yang cerdas dan berkualitas.

Berdasarkan pengamatan penulis, fenomena “pesantren dadakan” di televisi selama bulan Ramadhan ini sebetulnya terlihat menonjol sejak pasca reformasi 1998. Ada kecendrungan bahwa masyarakat perkotaan memang sedang mengalami peningkatan grafik keimanan. Sehingga, “pesantren dadakan” tersebut merupakan refleksi keber-agama-an umat muslim Indonesia yang perlu diapresiasi.

 Kadang-kadang, ketika kita melihat para da’i muda berceramah di televisi, kita sedikit bersikap skeptis atau bahkan cenderung apatis. Hal ini disebabkan karena nalar kritis kita sebagai mahasiswa Al-Azhar merasa “dicederai” oleh beberapa kalimat dari sang da’i yang mungkin menurut kita, kualitas keilmuannya belum sesuai dengan materi-materi yang pernah kita pelajari di bangku kuliah.

 Nalar kritis yang memang sudah menjadi naluri alamiah kita sebagai mahasiswa tentu sah-sah saja. Namun, sikap skeptis dan apatis yang berujung cercaan dan celaan, tentu juga bertolak belakang dengan nilai statuta akademik kita.

 Dari sini, penulis ingin mengajak para pembaca sekalian untuk kembali membaca fenomena sosio-kultural keber-agama-an masyarakat di belahan dunia manapun yang cenderung meng-kultus tunggal-kan bulan suci Ramadhan. Sikap meng-anak emas-kan bulan suci Ramadhan yang memang diajarkan oleh Rasulullah sebagai bulan rahmah, maghfirah dan ‘itqun minannar tentu sah-sah saja. Ceritanya kemudian menjadi “aneh bin ajaib” manakala kita justru mengabaikan kualitas 11 bulan yang lainnya.

  Seyogyanya, falsafah Ramadhan adalah menjadikan 30 hari di bulan Ramadhan sebagai sebuah “madrasah” kehidupan guna meningkatkan kualitas keimanan untuk menyongsong 335 hari sisanya selama satu tahun. Karena, manakala kita hanya meng-kultus tungal-kan Ramadhan tanpa memperhatikan kualitas bulan-bulan lainya tentu menjadi anti-klimaks dari falsafah paripurna yang tertuang dalam Surat Al-Baqarah ayat 183. Dan itu berarti, secara langsung maupun tidak langsung, kita menganggap bahwa Tuhan hanya hadir di bulan Ramadhan.

 Semoga kita tergolong orang-orang yang senantiasa menyembah Tuhan, bukan menyembah Ramadhan. Menyembah Tuhan artinya berkelanjutan sedangkan menyembah Ramadhan justru bersifat temporal. Hal ini menjadi penting karena Ramadhan itu bukan Tuhan!.

*Mahasiswa Al-Azhar University Cairo Fak. Islamic Law and Jurisprudence

No comments:

Post a Comment